Kabupaten Luwu Timur yang dikenal dengan julukan Bumi Batara Guru,
memiliki luas wilayah 6.944,88 km2 atau 11,14 % dari luas Sulawesi
Selatan, terbagi dalam 11 kecamatan, 124 desa dan 3 Kelurahan. Selain
potensi tambang, Kabupaten Luwu Timur juga dikenal sebagai daerah
agraris dengan kehidupan masyarakatnya sebagian besar adalah petani.
Pertanian menjadi sektor dominan dalam struktur ekonomi masyarakat
Kabupaten Luwu Timur. Makanya Pemerintah Kabupaten Luwu Timur
memfokuskan visi pembangunan menuju Kabupaten Agroindustri 2015.
Penguatan sektor pertanian sebagai potensi lokal dan kekuatan ekonomi
masyarakat telah memberikan dampak positif. Hal ini tergambar dari
peningkatan produksi pertanian yang terus membaik dari tahun ke tahun.
Sebagai gambaran, pada Tahun 2013 lalu, Produksi Tanaman Padi telah
mencapai 253.364,58 ton dengan Surplus beras sebesar 114.016,71 ton atau
mengalami peningkatan 8 persen di bandingkan tahun 2012 lalu.
Saat ini berbagai komoditi pertanian yang dihasilkan memiliki
keunggulan. Selain padi, jagung, rumput laut dan berbagai potensi
lainnya, salah satu komoditi yang menunjukkan peningkatan yang baik
adalah tanaman lada/merica. luas pertanaman lada tahun 2013 sebesar 4348,24 ha dengan produksi 2706,78 ton/ha dan rata-rata produktivitas 1,02 ton/ha pertahunnya. Dan penghasil merica terbesar berasal dari Kecamatan Towuti dengan luas pertanaman 3104,24 ha dengan produksi 2065,60 ton/ha dan provitas rata-rata 1,60 ton/ha. Dari bertani merica, ada salah satu desa di kecamatan Towuti, yakni Desa Bantilang yang perputaran uang mencapai Rp. 10 milyar setiap pekannya. Untuk ukuran desa, capaian ini sangat luar biasa.
adalah tanaman lada/merica. luas pertanaman lada tahun 2013 sebesar 4348,24 ha dengan produksi 2706,78 ton/ha dan rata-rata produktivitas 1,02 ton/ha pertahunnya. Dan penghasil merica terbesar berasal dari Kecamatan Towuti dengan luas pertanaman 3104,24 ha dengan produksi 2065,60 ton/ha dan provitas rata-rata 1,60 ton/ha. Dari bertani merica, ada salah satu desa di kecamatan Towuti, yakni Desa Bantilang yang perputaran uang mencapai Rp. 10 milyar setiap pekannya. Untuk ukuran desa, capaian ini sangat luar biasa.
Dalam upaya mendorong peningkatan partisipasi, prakarsa dan
kreativitas masyarakat dalam pembangunan, serta mendorong pemerataan
hasil-hasil pembangunan di seluruh wilayah, Pemerintah Kabupaten Luwu
Timur melakukan berbagai program terobosan dan inovasi berbasis
pemberdayaan masyarakat. Salah satunya dengan memberikan bantuan
keuangan bagi Pemerintah desa yang diarahkan untuk mendukung pembangunan
infrastruktur desa. Hasil dari program itu dikenal Bantuan Keuangan
Pembangunan Infrastruktur Perdesaan bagi Pemerintah Desa (BK
PIPP).
PIPP).
Sumber pendanaan BK PIPP berasal dari Anggaran Belanja dan Pendapatan
Daerah(APBD) Luwu Timur tahun berjalan. Lokasi penerima bantuan adalah
124 (seratus dua puluh empat) desa se Kabupaten Luwu Timur, dengan
alokasi sebesar Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah) pada tahun 2013,
dan meningkat pada tahun 2014 sebesar Rp. 200.000.000 (dua ratus juta
rupiah).
Realisasi dari program BK-PPIP ini menunjukkan tren peningkatan yang cukup baik, pengelolaan dana terserap dengan maksimal, dan pembangunan yang dilakukan telah sesuai dengan aspirasi masyarakat. Bahkan ada beberapa desa yang membangun proyeknya melebihi yang dianggarkan. Misalnya saja proyek pembangunan saluran drainase di salah satu desa yang semestinya diproposal anggaran pembangunan hanya untuk sejauh 500 meter, namun pada saat realisasinya bertambah menjadi 700 meter dengan biaya yang sama.
Inovasi lainnya, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur melalui Dinas Tata
Ruang dan Permukiman juga meluncurkan Program Bantuan Sosial Bedah
Rumah (BSBR) berbasis pemberdayaan masyarakat yang di tujukan bagi
Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang telah terdata di setiap
desa.
Berdasarkan data yang ada, tahun 2013 lalu sebanyak 619 rumah yang
tersebar di 11 kecamatan telah berhasil dibedah. Program ini
menghabiskan anggaran Rp.3.095.000.000, dengan rincian 5 rumah setiap
KK/desa dengan alokasi berjumlah Rp. 5.000.000 bagi setiap penerima bantuan. Realisasi program ini sangat baik, makanya ditahun 2014 ini, program kembali dilanjutkan dengan jumlah penerima manfaat 615 KK dengan alokasi dana Rp. 4.612.500.000. Untuk tahun ini dana bantuan ditingkatkan senilai Rp. 7.500.000 bagi setiap penerima bantuan.
KK/desa dengan alokasi berjumlah Rp. 5.000.000 bagi setiap penerima bantuan. Realisasi program ini sangat baik, makanya ditahun 2014 ini, program kembali dilanjutkan dengan jumlah penerima manfaat 615 KK dengan alokasi dana Rp. 4.612.500.000. Untuk tahun ini dana bantuan ditingkatkan senilai Rp. 7.500.000 bagi setiap penerima bantuan.
Dengan terlaksananya Program BSBR tahun 2013 ini, rumah tidak layak
huni berhasil dikurangi sebanyak 619 unit rumah dari alokasi dana APBD
dan 240 unit rumah dari bantuan dana APBN. Selama kurun waktu satu tahun
ini, Kabupaten Luwu Timur berhasil mengurangi 859 unit rumah tidak
layak huni menjadi layak huni, sehingga jumlah rumah tidak layak huni
tahun 2014 turun menjadi 8.540 unit rumah.
Di bidang kesehatan, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur melalui dinas
kesehatan menggagas kampung sehat atau lebih dikenal dengan kampong
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Desa Puncak Indah Kecamatan
Malili. Upaya menciptakan Kampung PHBS ini telah dilakukan sejak tahun
2013 lalu. Esensinya adalah Kampung PHBS merupakan wadah untuk
menciptakan suatu inovasi yang lebih menitikberatkan pada keluarga untuk
berperilaku sehat. Upaya sosialisasi, edukasi dan pendekatan sosial
terus digiatkan dengan harapan terciptanya kualitas perilaku hidup sehat
yang lebih baik untuk menjadikan Kabupaten Luwu Timur sebagai Kabupaten
Sehat.
Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (PBS) Kabupaten Luwu Timur
tahun 2013, dari sisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Luwu
Timur terus mengalami peningkatan. Hal ini tergambar dari tiga komponen
dasar yang digunakan untuk mengukur IPM yaitu, Pendidikan, kesehatan
dan Kemampuan Daya Beli. Pada 2012 IPM Kabupaten Luwu Timur mencapai
73,56
yang diperoleh dari Indeks Pendidikan sebesar 80,49 indeks Kesehatan sebesar 77,15 dan indeks daya beli mencapai 632,76 Ribu Rupiah.
yang diperoleh dari Indeks Pendidikan sebesar 80,49 indeks Kesehatan sebesar 77,15 dan indeks daya beli mencapai 632,76 Ribu Rupiah.
IPM Tahun 2012 mengalami peningkatan sebesar 0,45, dari capaian IPM
pada 2011 lalu sebesar 73,11. Peningkatan tersebut didukung oleh
peningkatan indeks pendidikan sebesar 0,18 point, indeks kesehatan
sebesar 0,23 point, dan indeks daya beli 3,59 point. Capaian IPM ini
pula memposisikan Kabupaten Luwu Timur berada diatas IPM Propinsi
Sulawesi Selatan Sebesar 73,29 dan IPM Nasional sebesar 72,70.
Angka kemiskinan juga mengalami penurunan pada tahun 2012 menjadi
7,71 % dimana pada tahun 2011 sebesar 8,29 % atau menurun sekitar 0,5 %
dari total penduduk miskin tahun 2012 sebesar 19.700 jiwa atau
mengalami penurunan sebesar 701 jiwa dari tahun 2011. Hal lainnya yang
juga cukup menggembirakan adalah laju inflasi pada 2012 mencapai 3,36%
atau turun sebesar 20,28 point dari 2011 sebesar 23,64%. Hal ini
menggambarkan kondisi perekonomian masyarakat semakin membaik.
Pemerintah Kabupaten Luwu Timur juga membangun kemitraan dengan
berbagai stakeholder yang ada di wilayahnya. Salah satunya dengan PT
Vale Indonesia Tbk melalui Program Terpadu Pengembangan Masyarakat
(PTPM) yang ditujukan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan
masyarakat khususnya di wilayah pemberdayaan dan masyarakat Luwu Timur
pada umumnya melalui program yang terencana dan berkesinambungan.
Impelmentasi program PTPM ini diyakini akan berkontribusi besar, tidak hanya untuk pemberdayaan masyarakat dan lingkungan sekitar tetapi juga dalam skala yang lebih besar yaitu pembangunan daerah.
Impelmentasi program PTPM ini diyakini akan berkontribusi besar, tidak hanya untuk pemberdayaan masyarakat dan lingkungan sekitar tetapi juga dalam skala yang lebih besar yaitu pembangunan daerah.
Sebelas tahun tentu usia yang masih sangat muda, namun telah begitu
banyak catatan sejarah yang mengisahkan tentang perjalanan panjang
kabupaten ini. beragam dinamika dan fenomena telah terjadi dan mesti
diakui bahwa Kabupaten Luwu Timur hari ini telah jauh berubah, dengan
dilakukannya berbagai pembangunan fisik di berbagai sektor. Ini terlihat
nyata dengan semakin lengkap dan tertatanya sarana dan prasarana umum
dan berbagai fasilitas publik. ini adalah suatu prestasi yang patut
dibanggakan bersama.
Semua kerja keras dan dedikasi telah mendapatkan apresiasi,
Alhamdulillah, pada tanggal 25 April 2014 yang lalu, tepatnya pada
peringatan Hari Otonomi Daerah ke 18, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur
berhasil menerima piagam penghargaaan sebagai daerah yang berhasil mencapai kinerja sangat tinggi berdasarkan Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Tahun 2012 di Hotel Grand Sahid Jakarta yang diserahkan langsung Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi.
berhasil menerima piagam penghargaaan sebagai daerah yang berhasil mencapai kinerja sangat tinggi berdasarkan Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Tahun 2012 di Hotel Grand Sahid Jakarta yang diserahkan langsung Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi.
Penghargaan ini merupakan berkah yang luar biasa, karena itu,
prestasi-prestasi yang telah diraih akan terus menjadi pemacu semangat
sekaligus memotivasi diri untuk terus maju juga meningkatkan
kekompakkan dan kerjasama guna mewujudkan tata pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat, harus terus dipertahankan dengan melibatkan peran aktif seluruh elemen masyarakat. Dirgahayu Kabupaten Luwu Timur ke 11. (Humas & Protokol Setdakab. Lutim)
kekompakkan dan kerjasama guna mewujudkan tata pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat, harus terus dipertahankan dengan melibatkan peran aktif seluruh elemen masyarakat. Dirgahayu Kabupaten Luwu Timur ke 11. (Humas & Protokol Setdakab. Lutim)